SALAKAN, klikbanggai.com — Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang oknum guru agama di salah satu SLTA di Kota Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan, kini tengah menjadi perhatian publik. Seorang siswi perempuan diduga menjadi korban tindakan tidak pantas yang dilakukan oleh oknum guru tersebut saat proses belajar mengajar berlangsung.
Kapolres Banggai Kepulauan AKBP Ronaldus Karurukan, SIK., saat dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim AKP Nanang Afrioko, S.H., M.H., membenarkan sudah ada laporan yang masuk dan masih dalam proses pemeriksaan saksi-saksi serta melengkapi alat bukti.
“Untuk proses masih pemeriksaan saksi-saksi lengkapi alat bukti,” ujar AKP Nanang kepada klikbanggai.com, Selasa (19/05/2026).
Kasat Reskrim Polres Banggai Kepulauan menyampaikan aparat kepolisian juga akan mendalami seluruh keterangan serta kemungkinan adanya korban lain dalam kasus tersebut.
“Rencana minggu depan kita (Satreskrim, red) gelar awal,” tambah AKP Nanang Afrioko, S.H., M.H.,
Berdasarkan informasi yang diperoleh klikbanggai.com, korban mengaku dicium oleh oknum guru saat sedang mengikuti pelajaran agama di lingkungan sekolah. Peristiwa tersebut kemudian disampaikan korban kepada pihak sekolah dan keluarganya sebelum akhirnya dilaporkan secara resmi ke Polres Banggai Kepulauan.
Dari pengakuan korban, oknum guru yang dilaporkan disebut telah mengakui perbuatannya di hadapan guru Bimbingan Konseling (BK) sekolah. Informasi ini menjadi salah satu bagian penting yang turut didalami oleh penyidik.
Selain itu, muncul dugaan bahwa tindakan serupa tidak hanya dialami oleh satu korban. Beberapa siswa lain disebut-sebut pernah mengalami perlakuan tidak pantas, namun hingga kini belum berani memberikan keterangan secara terbuka karena faktor ketakutan dan tekanan psikologis.
Kasus ini memicu keprihatinan masyarakat karena lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk belajar dan berkembang. Publik pun berharap aparat penegak hukum dapat menangani perkara ini secara serius, transparan, dan memberikan perlindungan penuh kepada korban.
Sejumlah pihak juga mendorong agar institusi pendidikan melakukan evaluasi internal serta memperkuat sistem pengawasan dan perlindungan terhadap siswa guna mencegah terulangnya kejadian serupa di lingkungan sekolah.
**Red













