SALAKAN, klikbanggai.com –– Tudingan mal praktek di RSUD Trikora Salakan atas dugaan penyebab kematian seorang pasien perempuan berusia 27 tahun, asal desa Manggalai, kecamatan Tinangkung itu, diklarifkasi langsung oleh pihak rumah sakit, pada Rabu (15/4/2026) sore tadi.
Pasien wanita tersebut dikabarkan sempat menjalani proses persalinan normal anak kedua di RS Trikora Salakan, pada Senin (13/4/2026) kemarin, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Berikut kronologis singkat penanganan pasien dimaksud !
Usai proses persalinan normal di rumah sakit, pasien kemudian mengalami pendarahan hebat akibat ruptur uterus atau robekan pada rahim/kandungan.
Robekan pada ruptur uterus itu susah terdeteksi. Dan hanya bisa dilihat pada bagian tanda-tanda alat vital pasien.
Sehingga satu-satunya penanganan adalah dengan melalui tindakan operasi. Dan tindakan operasi juga dilakukan atas dasar persetujuan bersama antara pihak rumah sakit dengan keluarga pasien.
Dirut RSUD Salakan, dr. Feldy, SpB, menjelaskan bahwa sebelum tindakan operasi dilakukan, dokter kandungan sempat memanggil pihak keluarga ke ruangan operasi, menyaksikan sobekan di partus normal vagina pasien.
“Tindakan operasi dimaksud adalah operasi angkat kandungan,” kata dr. Feldy.
Setelah proses operasi dilakukan, lanjut dr. Feldy, terjadi pendarahan hebat pada pasien. Namun, hal itu bisa langsung teratasi.
“Pasien kemudian dipindahkan ke ruang ICU untuk menjalani proses perawatan dan pemulihan secara lebih intensif,” terangnya.
Pada malam harinya, sekitar pukul 20.00 Wita, pasien dinyatakan meninggal dunia karena mengalami kegagalan semua fungsi organ atau Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS) atau Multiple Organ Failure (MOF).
Dan sekadar diketahui, pasca operasi atau hemoraghe post partum (HPP), itu biasanya terjadi pada seorang pasien, dimana kondisi tersebut memang tergantung bagian mana dari uterus yang kena robekan secara spontan.
Atas peristiwa tersebut, pihak rumah sakit kemudian dituding melakukan mal praktek terkait kematian pasien asal Desa Manggalai itu. Tudingan itu muncul melalui pemberitaan di salah satu media lokal di Bangkep.
Menanggapi hal itu, dr. Feldy, menyatakan, bahwa semua petugas nakes sudah melaksanakan tugasnya secara prosedural, profesional dan penuh tanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan pasien.
“Intinya, saya tidak ada maksud untuk membela diri atau membela teman-teman nakes. Mereka juga sudah berupaya maksimal melakukan penanganan terhadap keselamatan nyawa pasien. Tapi lagi-lagi, urusan ajal dan kematian itu adalah urusan tuhan. Dan saya juga turut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” ucapnya.
dr. Feldy juga mengaku sangat menyesalkan pemberitaan media tersebut. Karena menurutnya, pemberitaan tersebut tidak disertai dengan keberimbangan dan tanpa melakukan upaya konfirmasi ke petugas nakes atau pihak rumah sakit.
“Karena yang diingat ini adalah dampak dari berita itu untuk masyarakat. Artinya, masyarakat nantinya bisa jadi takut pergi berobat ke fasilitas kesehatan sekarang. Dan lebih memilih berdiam diri dengan mengandalkan pengobatan tradisional di desa-desa lewat Biang,” ujarnya.
Nah, ketika hal seperti itu terjadi, lanjut dr. Feldy, maka yang dikuatirkan adalah risiko dan tingkat kematian ibu dan anak di wilayah kabupaten bangkep justru akan semakin meningkat. (*)













