SALAKAN, klikbanggai.com – Kondisi memprihatinkan menimpa KM Banawa Nusantara 22, kapal hibah Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) yang kini terbengkalai di Desa Tompudau, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sejumlah komponen vital kapal tersebut dilaporkan raib. Mulai dari mesin kapal, peralatan navigasi, baling-baling, hingga pendingin ruangan (AC split), tak lagi ditemukan di tempatnya.
Temuan ini terungkap berdasarkan penelusuran tim klikbanggai.com di lokasi keberadaan kapal tersebut. Kondisi kapal memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan, pengamanan, dan tanggung jawab pengelolaan aset hibah Pemerintah Pusat yang seharusnya dijaga agar tidak mengalami kerusakan maupun kehilangan.
Tak hanya hilang, informasi yang dihimpun klikbanggai.com menyebutkan bahwa sebagian komponen kapal diduga telah dicuri dan diperjualbelikan. Sejumlah barang disebut dibawa ke wilayah Kabupaten Banggai Laut, sementara sebagian lainnya diduga dijual kepada pengepul besi tua.
Meski demikian, informasi mengenai dugaan pencurian dan penjualan komponen kapal tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut, termasuk untuk memastikan pihak yang terlibat serta ke mana barang-barang itu berpindah.
Kadis Perhubungan Akui Peralatan Kapal Sudah Tidak Ada.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banggai Kepulauan, Din L. Lamasada, S.H., M.A.P., saat dikonfirmasi klikbanggai.com, Jumat (30/10/2026), tidak membantah kondisi hilangnya sejumlah perlengkapan kapal tersebut.
Din mengungkapkan, pihaknya telah melakukan monitoring langsung ke lokasi KM Banawa Nusantara 22 dan mendapati peralatan navigasi serta sejumlah perlengkapan lainnya sudah tidak berada di kapal.
“Saya monitoring ke tempat lokasi Banawa. Tidak ada lagi navigasi dan perlengkapan lainnya,” tegas Din Lamasada.
Namun, mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Banggai Kepulauan itu menjelaskan bahwa kondisi kedua unit KM Banawa yang mangkrak bukan terjadi pada masa kepemimpinannya di Dinas Perhubungan.
Menurut Din, saat dirinya mulai bertugas sebagai Kepala Dinas Perhubungan, kedua kapal tersebut sudah lama tidak beroperasi. Bahkan, sejumlah peralatan dilaporkan telah hilang sebelum dirinya menjabat.
“Ketika saya tugas di Dishub, kapal sudah mangkrak dan peralatannya sudah tidak ada,” ungkap Din.
Siapa Bertanggung Jawab atas Hilangnya Aset Kapal?
Pernyataan Kepala Dinas Perhubungan tersebut justru membuka persoalan yang lebih mendasar. Jika kapal dan seluruh perlengkapannya telah terbengkalai sebelum pergantian pejabat, bagaimana sistem pengawasan dan pengamanan aset tersebut selama ini?
Siapa pihak yang bertanggung jawab menjaga keberadaan kapal? Kapan terakhir kali dilakukan pemeriksaan dan inventarisasi kelengkapan kapal? Serta apakah dugaan hilangnya mesin dan sejumlah komponen bernilai ekonomis tersebut pernah dilaporkan kepada aparat penegak hukum?
Pertanyaan itu menjadi penting mengingat KM Banawa Nusantara 22 merupakan kapal bantuan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, yang keberadaan dan pemanfaatannya semestinya harus dapat dipertanggungjawabkan secara administratif maupun fisik.
Terlebih, mesin dan perangkat navigasi merupakan komponen penting dalam operasional kapal. Kehilangan peralatan tersebut bukan sekadar persoalan kapal yang mangkrak, melainkan berpotensi menimbulkan kerugian terhadap aset pemerintah apabila status kepemilikan dan nilai barang yang hilang telah dipastikan.
Dugaan Penjualan Komponen Kapal Perlu Diusut.
Informasi mengenai dugaan penjualan komponen kapal ke Banggai Laut dan pengepul besi tua juga menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri.
Apabila dugaan tersebut terbukti, penanganannya tidak cukup hanya dengan melakukan pemeriksaan kondisi kapal. Diperlukan penelusuran terhadap asal-usul barang, pihak yang mengambil, pihak yang menjual, hingga pembeli yang diduga menerima komponen kapal tersebut.
Selain itu, perlu diperjelas status pencatatan aset, pihak yang memiliki kewenangan pengamanan, serta mekanisme serah terima tanggung jawab pengelolaan kapal dari waktu ke waktu.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan mengenai nilai keseluruhan komponen yang hilang, waktu pasti terjadinya kehilangan, maupun ada atau tidaknya laporan resmi kepada aparat kepolisian.
Kasus raibnya mesin dan peralatan KM Banawa Nusantara 22 ini menjadi ujian transparansi dan akuntabilitas pengelolaan bantuan pemerintah di Kabupaten Banggai Kepulauan.
Publik kini menanti kejelasan: apakah komponen kapal tersebut hilang akibat lemahnya pengawasan, atau terdapat dugaan tindak pidana pencurian yang selama ini luput dari penanganan?
Redaksi klikbanggai.com akan terus menelusuri persoalan ini guna memperoleh penjelasan dari pihak-pihak terkait.
-
- **Redaksi | klikbanggai.com













