POLICY BRIEF
PENGUATAN INFRASTRUKTUR DAN DIMENSI SERVQUAL: KUNCI SUKSES UNIVERSAL HEALTH COVERAGE (UHC) DI WILAYAH KEPULAUAN
Evaluasi Mutu Pelayanan Kesehatan dan Kepuasan Pasien di Puskesmas Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan
Penulis : Adrianus.
Ringkasan Eksekutif
Keberhasilan Universal Health Coverage (UHC) tidak hanya diukur dari cakupan kepesertaan administrasi, melainkan juga dari mutu pelayanan kesehatan yang diterima langsung oleh masyarakat. Di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Banggai Kepulauan, implementasi UHC menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan sarana.
Survei internal Puskesmas Tinangkung Utara menunjukkan Indeks Kepuasan Masyarakat berada di kategori Baik (85,16), namun dimensi fasilitas dan infrastruktur (bukti fisik/tangible) menempati skor terendah (74,91). Policy brief ini merekomendasikan intervensi strategis melalui pendekatan lima dimensi SERVQUAL (tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy) serta pengalokasian anggaran khusus daerah kepulauan guna menjamin pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan berkeadilan.
Konteks dan Urgensi Masalah
Sebagai gatekeeper utama program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menuju UHC, Puskesmas memikul beban kunjungan pasien yang terus meningkat. Berdasarkan regulasi terbaru, yaitu UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan serta Permenkes No. 19 Tahun 2024, Puskesmas diwajibkan memberikan pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan kepuasan pasien.
Namun, realitas di wilayah kepulauan menciptakan kesenjangan mutu pelayanan karena beberapa masalah mendasar:
- Rapuhnya Dimensi Tangible (Bukti Fisik): Keterbatasan fasilitas fisik, kenyamanan ruang tunggu, dan kontinuitas ketersediaan obat menjadi titik paling lemah dalam pelayanan di Puskesmas Tinangkung Utara.
- Risiko Penurunan Responsiveness (Daya Tanggap): Lonjakan pasien era UHC yang tidak diimbangi dengan jumlah tenaga kesehatan berpotensi memperpanjang waktu tunggu pelayanan.
- Kesenjangan Geografis: Distribusi logistik kesehatan dan fasilitas penunjang medis ke daerah kepulauan sering kali terhambat akses transportasi.
Temuan Lapangan dan Analisis Kesenjangan
Pengukuran kinerja pelayanan publik secara administratif saja tidak cukup. Diperlukan analisis mendalam melalui pendekatan SERVQUAL untuk melihat kesenjangan antara harapan pasien dengan kenyataan di lapangan:
Dimensi SERVQUAL
Tantangan Riil Era UHC di Wilayah Kepulauan
Tangible (Bukti Fisik)
Kondisi sarana prasarana belum optimal; keterbatasan alat medis penunjang dan obat-obatan. (Skor terendah: 74,91)
Reliability (Keandalan)
Potensi ketidakonsistenan prosedur akibat beban kerja nakes yang meningkat seiring lonjakan kepesertaan UHC.
Responsiveness (Daya Tanggap)
Waktu tunggu antrean obat dan pendaftaran berisiko memanjang jika sistem administrasi belum terdigitalisasi dengan baik.
Assurance (Jaminan)
Perlunya jaminan kepastian hukum, kompetensi nakes yang tersertifikasi, dan komunikasi medis yang membangun rasa aman.
Empathy (Empati)
Tantangan menjaga keramahan dan kepedulian nakes di tengah tingginya beban pelayanan pasien harian.
Rekomendasi Kebijakan
Untuk menjamin implementasi UHC yang berkualitas di Puskesmas Tinangkung Utara, Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai Kepulauan dan Dinas Kesehatan disarankan mengambil langkah-langkah konkret berikut:
1. Prioritaskan Revitalisasi Infrastruktur (Tangible).
Dinas Kesehatan bersama Bappeda perlu mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik untuk renovasi ruang tunggu, perbaikan sistem sanitasi, serta peningkatan kapasitas fasilitas rawat jalan di Puskesmas Tinangkung Utara guna mendongkrak skor kepuasan yang saat ini masih rendah.
2. Standarisasi dan Digitalisasi Pelayanan (Reliability & Responsiveness)
Menerapkan sistem pendaftaran berbasis digital (aplikasi/anjungan mandiri lokal) untuk memotong waktu antrean di era UHC.
Menjamin rantai pasok (supply chain) obat-obatan ke wilayah kepulauan agar tidak terjadi kekosongan stok yang dapat menurunkan kepercayaan pasien.
3. Penguatan Kapasitas dan Insentif Tenaga Kesehatan (Assurance & Empathy)
Menyelenggarakan pelatihan berkala terkait service excellence dan komunikasi terapeutik bagi seluruh staf Puskesmas.
Memberikan insentif berbasis kinerja dan wilayah terpencil/kepulauan untuk menjaga motivasi kerja nakes dalam memberikan pelayanan yang ramah dan empati.
Kesimpulan
Kepuasan pasien adalah cermin keadilan sosial dalam kesehatan. Pencapaian UHC di Kabupaten Banggai Kepulauan tidak boleh berhenti pada pemenuhan target kepesertaan di atas kertas. Perbaikan pada dimensi bukti fisik (tangible) serta konsistensi daya tanggap (responsiveness) petugas di Puskesmas Tinangkung Utara merupakan investasi mutlak demi mewujudkan pelayanan kesehatan kepulauan yang bermutu dan bermartabat.
Rekomendasi ini Ditujukan Kepada:
- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Kepulauan
- Bupati Kabupaten Banggai Kepulauan (Cq. Bappeda)
- Kepala Puskesmas Tinangkung Utara









